Filsafat Pendidikan

Wahyu_Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan yang mampu menjawab segala pemecahan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupannya. Namun karena banyak permasalahan yang tidak dijawab oleh filsafat maka lahirlah cabang ilmu pengetahan lain yang membantu menjawab segala macam permasalahan yang timbul.

Diantara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang terjadi dilingkungan pendidikan. Karena filsafat dan pendidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, maka berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosof dan memerlukan jawaban yang filosof pula.

  1. Perkembangan Pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno

Filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pedekatan dan perekat kembali berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan yang lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa fisafat berkembang sesuai dengan perputaran dan perubahan jaman. Paling tidak sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui salah satu cerita dalam kategori filsafat spiritualisme kuno.

  1. Timur Jauh

Yang termasuk dalam wilayah Timur Jauh adalah China, India, dan Jepang. Di India berkembang filsafat-filsafat spiritualisme Hindhuisme dan Buddhisme. Sedangkan di Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China berkembang Taoisme dan Konfusianisme.

  1. Hindu

Pemikiran spiritualiseme Hindu adalah konsep karma yang berarti setiap individu telah dilahirkan kembali secara berulang dalam bentuk manusia atau binatang sehingga ia menjadi suci dan sempurna sebagai bagian dari jiwa universal.

  1. Buddha

Pencetus ajaran Buddha adalah Sidarta Gautama. Kitab Buddha Tripitaka bayak menceritakan dari pada agama pembawa agama ini yaitu Sidarta Gautama. Buddha menyebarkan delapan jalur yang mulia: a) Pandangan yang benar; b) aspirasi yang benar; 3) berbicara yang benar; 4) berbuat yang benar; 5) mata pencaharian yang benar; 6) berusaha yang benar; 7) kesadaran yang benar; 8) renungan yang benar.

  1. Taoisme

Pendiri Taoisme adalah Lao Tse.Yang memandang filsafat adalah jalan Tuhan atau Sabda Tuhan, Tao ada dimana-mana tapi tidak berbentuk dan tidak dapat pula diraba, tidak dapat dilihat dan didengar. Toisme menganggap bahwa alam semesta ini sebagai sistem yang sempurna dan ideal berjalan menurut kekuatan bertuhan. Surga pun memiliki hukum alam sendiri.

  1. Shinto

Kojiki, kitab suci agama Shinto tidak hanya menerangkan proses penciptaaan alam semesta yang dilakukan oleh para dewa dan bahwa manusia itu abadi, tetapi ia juga menegaskan bahwa setiap orang harus memiliki dirinya sendiri, melakukan hal-hal yang mengandung nilai budi luhur dan mengajarkan mencuci dengan air sebagai metode pencucian keagamaan

  1. Timur Tengah
  2. Yahudi

Pemikiran filsafat Timur Tengah muncul dengan adanya penguraian tentang bentuk penindasan moral dari monoteisme, peredaran, kebenaran, dan bernilai tinggi. Talmud, kitab suci orang Yahudi mengajarkan umat Yahudi wajib untuk berusaha semaksimal mungkin agar kekuasaan umat lain di muka bumi dapat dicegah. Kekuasaan harus dipegang oleh kaum Yahudi.

  1. Kristen

Pokok ajarannya adalah mengajarkan konsep Tuhan dalam arti monoteisme murni. Ilmu pengetahuan pada agama kristen sudah ada sejak lama dan sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat terutama yang beragama kristen.

  1. Romawi dan Yunani: Antromorpisme

Antromorpisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat yang ada pada manusia. Paham ini muncul pada zaman Patristik dan Skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman pertengahan filsafat barat yang dikuasai oleh pemikiran kristiani. Di Yinani ahli pikir mencoba menerka teka-teki alam mereka ingin mengetahui apa asal mula alam semesta dan isinya.

  1. Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan

Lahirnya filsafat Yunani pada abad ke-6 SM, bagi orang Yunani filsafat merupakan ilmu yang meliputi semua pengetahuan ilmiah. Pada masa ini, keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Arche berasal dari bahasa Yunani yang berarti mula, asal. Karena filsuf-filsuf itu berusaha mencari inti alam, maka mereka disebut filsafat alam. Menurut Poedjawijawa, filsuf-filsuf alam yang terkenal pada masa ini adalah:

  1. Thales (624-548 SM), berpendapat bahwa intisari alam ini ialah air.
  2. Anaximandros, mengatakan bahwa dasar pertama alam itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya.
  3. Anaximenes, mengatakan bahwa intisari alam adalah udara, karena udaralah yang meliputi alam dan yang menjadi dasar hidup bagi manusia untuk bernafas.
  4. Pitagoras, mengatakan bahwa dasar segala sesuatu ialah bilangan, pada manusia ada sesuatu non-jasmani yang tidak dapat mati jika manusia sudah mati, yaitu jiwa.
  5. Heraklitos, mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini berubah. Menurutnya, intisari dunia adalah api, karena sifat api itu selalu bergerak dan berubah, tidak tetap.
  6. Parmenides mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah serta pengetahuan mengenai yang tetap, pengetahuan budi dan pngetahuan indra.

Sofis berasal dari kata sofhos yang berarti cendekiawan. Menurut kaum sofis, menusia menjadi ukuran kebenaran, tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, kebenaran hanya berlaku secara individual. Penekanan kaum sofis pada ilmu berpidato dan kemahiran berbahasa tersebut menampilkan kekhawatiran tersendiri, bahwa teknik berpidato akan dipergunakan untuk maksud-maksud yag jahat. Meskipun demikian, tetap saja aliran sofis ini juga mempunyai pengaruh positif bagi kebudayaan Yunani. Boleh dikatakan bahwa para sofislah yang menyebabkan munculnya revolusi intelektual di Yunani. Di antara jasa sofis adalah fondasi untuk pendidikan sistematis bagi kaum muda dan mengambil manusia sebagai objek dari pemikiran filsafat, di samping mempersiapkan kelahiran filsafat baru yang direalisasikan oleh Socrates, Plato dan Aristoteles.

  1. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates (470-399 SM)

Dalam sejarah filsafat, Socrates adalah salah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang gagasan filosofis dan metode pengajarannya sangat mempengaruhi teori dan praktek pendidikan di seluruh dunia. Menurut Socrates, prinsip pendidikan adalah metode dialektis, metode ini digunakan sebagai dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar, berfikir secara cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan memperbaiki pengetahuannya.

Menurut Socrates, tujuan pendidikan adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus-menerus dan standar moral yang tinggi. Dengan berfikir, manusia akan mampu menertibkan, meningkatkan, dan mengubah dirinya sehingga orang sungguh-sungguh mengetahui dan mengerti apa yang benar dan dapat menyadari konsekuensi-konsekuensi akan perbuatan yang benar. Dalam pendidikan, Socrates menggunakan sistem atau cara berfikir yang bersifat induksi, yaitu menyimpan pengetahuan yang bersifat umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan hal khusus.

  1. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato (427-347 SM)

Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga negara. Idealnya dalam sebuah negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang khusus, karena pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia, maka harus diselenggarakan oleh negara. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar.

Menurut Plato, peran pendidikan adalah membebaskan dan mempengaruhi pembebasan dan pembaruan itu akan membentuk manusia utuh, yakni manusia yang berhasil menggapai segala keutamaan dalam jiwa yang mengantarkannya ke ide yang tinggi yaitu kebijakan, kebaikan, dan keadilan. Tujuan pendidikan adalah untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia menjadi seorang warga negara yang baik masyarakat yang harmonis yang melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota masyarakat.

  1. Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM)

Menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan pada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, yaitu akal, guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendii tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan-dukungan, perasaan yang lebih tinggi agar diarahkan secara benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik itu yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan.

Menurut Aristoteles, untuk memperoleh pengetahuan, manusia harus melebih dari binatang-binatang lain dalam berfikir, harus mengamati dan secara hati-hati mnganalisis struktur-struktur, fungsi-fungsi organisme itu dan segala yang ada dalam alam. Oleh karena itu, prinsip pokok keadilan menurut Aristoteles adalah pengumpulan dan penelitian fakta-fakta belajar, suatu pencarian yang objektif akan kebenaran sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan. Pendidikan yang baik sebaiknya diberikan kepada semua anak, putra-putri, semua warga negara sebaiknya diajar sesuai dengan kemampuan mereka. Yang jelas disiplin merupakan hal yang esensial dalam mengajarkan para pemandu-pemandu untuk dimintai perintah-perintah dan mengendalikan gerakan hati mereka.

~ oleh wahyumaulita pada April 17, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: